Guru Zaman Now, Dilema antara Mendidik dan Hak Asasi


Profesi guru atau sekarang lebih dikenal sebagai tenaga kependidikan adalah profesi yang paling banyak menjadi incaran para sarjana. Terlebih orang-orang yang hidup di kampung atau pedalaman. Orang tua kerapkali mengarahkan anak-anaknya yang telah selesai dari bangku sekolah untuk melanjutkan perkuliahan yang nantinya akan menjadi guru. Peran guru dalam masyarakat dinilai sangat terhormat, karena apapun profesi di dunia ini kebanyakan adalah buah jerih payah seorang guru. Tapi itu semua adalah pemikiran-pemikiran tempo dulu ketika guru masih sangat dihargai dan dihormati.

Sekarang, untuk menjadi seorang guru tentu banyak pertimbangan-pertimbangan yang harus dipikirkan matang-matang. Mulai dari dunia pendidikan yang semakin hari semakin bertambah maju. hingga resiko ketika telah menjadi seorang guru.

Guru yang dimaksud tentunya adalah guru yang mengajar pada instans-instansi pendidikan formal. Sebab guru yang mengajar pada instansi pendidikan formal ini memiliki tingkat resiko yang jauh lebih besar daripada guru yang berkutat pada dunia pendidikan non-formal. Aturan-aturan yang semakin hari seolah-olah semakin menyudutkan seorang guru, menjadikan profesi ini kini tak lagi banyak diminati. Padahal dengan kemajuan pendidikan dan kebutuhan peserta didik untuk memperoleh pembelajaran yang efektif tentunya sangat membutuhkan peran guru.



Hak Asasi Manusia, menjadi salah satu dari sekian banyak resiko yang harus dihadapi oleh guru. Betapa tidak, dengan berbekal Hak Asasi Manusi, banyak peserta didik yang kini tidak lagi menghormati guru. Peraturan dan tata tertib sekolah kini sudah sering tidak diindahkan lagi oleh para peserta didik yang memiliki karakter penentang. Bukannya, mementingkan prestasi, peserta didik yang memiliki karakter seperti ini acapkali membuat kekacauan di sekolah.

Jika kita kembali ke keadaan seperti dulu, peserta didik seperti inilah yang menjadi incaran para guru 'killer' untuk memanfaatkan mistar kayu atau penghapus papan tulis. Entah sudah berapa kali siswa seperti ini harus menerima cambukan mistar atau lemparan penghapus papan tulis. Namun kini, peran guru yang seperti ini sudah tidak ada lagi, berganti dengan guru yang santun dan tidak mementingkan kekerasan. Meskipun menghadapi peserta didik yang bandel, guru tetap diharuskan untuk dapat menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.

Pertanyaannya, apakah dengan karakter guru yang seperti ini akan efektif menjadikan peserta didik menjadi lebih baik?

Jawabannya adalah bisa 'iya' dan bisa pula 'tidak'. Hal seperti itu akan efektif apabila peserta didik yang melakukan pelanggaran memiliki rasa bersalah dan rasa menghormati guru yang tinggi. Namun, justru akan jauh lebih tidak efektif, apabila seorang guru menghadapi peserta didik yang tidak memiliki etika dan sopan santun, serta bermental 'kerupuk'.

Sudah ada beberapa contoh kasus, seorang guru dipolisikan orangtua hanya karena menghukum peserta didiknya. Padahal hukumaan tersebut diberikan karena peserta didik tidak menghormati guru, asyik bermain sementara guru sedang menjelaskan. Jika dibandingkan dengan keadaan dimasa lalu, hukuman yang diberikan bukanlah termasuk hukuman yang berat.

Jadi, guru memang merupakan profesi yang mulia akan tetapi mengandung banyak resiko. Seorang guru yang baik adalah yang mampu menjadi pendidik dan memberikan contoh yang tepat bagi peserta didiknya. Seorang peserta didik yang baik adalah peserta didik yang selalu menghormati gurunya.

Sumber gambar: https://www.google.com


0 Komentar