Milenial, sebagian orang mungkin baru akrab dengan
istilah ini beberapa waktu belakangan, sebab salah satu pasangan calon presiden
dan wakil presiden Indonesia cukup sering menggunakannya dalam kampanye
politik. Padahal jika ditelusuri, kata milenial ini sudah sangat lama menjadi
perbincangan di berbagai kalangan.
Kata milenial sendiri pada masa-masa yang lalu sangat sering digunakan khususnya bagi
kaum atau sekolompok anak muda yang memiliki tingkat intelektual dan dedikasi
tinggi untuk membangun sebuah bangsa. Selain itu, ungkapan milenial ini kerap
kali hanya diperuntukkan bagi anak-anak muda yang menetap di kawasan perkotaan
saja. Padahal kata milenial memiliki arti yang begitu luas, bukan hanya
terkhusus pada tingkat intelektual dan tempat tinggal, akan tetapi semua kaum
pemuda berhak dikatakan sebagai kaum milenial.
Gambar: Milenial Kampung (Sumber: https://www.vebma.com)
Milenial kampung, pembangun ekonomi bangsa yang
sesungguhnya. Sebuah ungkapan yang terdengar begitu sangat diskriminatif jika
tidak dicerna dengan logika yang utuh. Namun ungkapan tersebut tidak sepenuhnya
bisa disalahkan jika kita menggunakan kacamata objektivitas, sebab keadaan yang
terjadi saat ini sudah menjelaskan hal tersebut.
Pemuda (milenial) kampung dahulu hanya dianggap
sebagai pekerja kasar yang tahunya hanya sawah, ladang, dan ternak, serta
dianggap memiliki peradaban dan tingkat intelektual terbelakang (bahasa
sekarang kurang update atau kudet) kini telah menjelma menjadi
pemuda milenial yang cerdas, terampil, dan berkemajuan. Pemuda kampung yang
dahulu hanya dipandang sebelah mata, kini telah berbalik arah menjadi pemuda
kampung yang siap untuk membangun bangsa dari segala sektor. Salah satu
diantarnya adalah sektor ekonomi.
Indonesia sejak dahulu dikenal sebagai negara dengan
tingkat pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Bahkan sejak masa Orde Baru
pertumbuhan ekonomi di negara ini dari tahun ke tahun terus mengalami
peningkatan. Banyak masyarakat yang berangapan bahwa anak-anak muda
perkotaanlah yang paling banyak memberikan sumbangsih terhadap pertumbuhan
ekonomi yang pesat ini. Namun jika ditelisik lebih jauh, justru milenial
kampunglah yang paling banyak mengambil peran dalam menumbuhkan perekonomian
bangsa.
Dahulu, orang-orang di kawasan perkotaanlah yang kerap
kali dianggap sebagai penggerak ekonomi bangsa. Alasannya cukup sederhana,
selain karena perputaran roda ekonomi memang berpusat di kota, tingkat
pendidikan dan intelektual orang-orang kota diangap lebih maju jika dibandingan
dengan orang-orang kampung yang diangap masih tradisional dan lebih
mementingkan otot daripada otak dalam bekerja. Akan tetapi anggapan itu
perlahan mulai memudar, sebab kini milenial kampung sudah jauh berubah baik
dari segi pemikiran maupun dari segi peradaban. Milenial kampung juga kini jauh
lebih kritis dalam melihat situasi yang terjadi di negara ini. Tidak ada lagi
milenial kampung yang kumal dan tidak
terdidik, yang ada hanyalah milenial kampung yang memiliki penampilan menarik
dan memiliki keinginan kuat untuk terus maju, bahkan sebagian besar milenial
kampung kini memiliki tingkat pendidikan yang jauh lebih tinggi daripada
pemuda-pemuda kota. Tujuannya hanya satu, yakni bagaimana agar memiliki peran
vital dalam pembangunan bangsa.
Gambar: Milenial kampung (sumber: http://yogyakarta.panduanwisata.id)
Dapat kita lihat, disaat
pemuda-pemuda di kawasan perkotaan sedang asyik dan bangga dengan gadget canggihnya, milenial kampung justru
merasa bangga dengan traktor baru yang paling tidak mampu sedikit menghemat
tenaga jika dibandingkan menggarap lahan menggunakan tenaga sapi. Jika
pemuda-pemuda kota gengsi untuk berjalan kaki ke sekolah, milenial kampung
justru merasa asyik dengan kaki telanjang turun ke sawah. Hasilnya dapat kita
lihat suatu saat nanti, ketika pemuda-pemuda perkotaan tengah sibuk menggunakan
fasilitas negara dalam kesehariannya, milenial kampung justru sibuk untuk
meningkatkan perekonomian bangsa dari sektor pertanian maupun peternakan.
Ditulis oleh: Muh. Nurqamarullah
Telah diikutsertakan dalam lomba Menulis Opini Nasional bertema "Pemuda Milenial" yang diselenggarakan oleh FORKOMSI FEB UGM dan Jejak Publisher


0 Komentar