Asal-Usul Ketupat Menjadi Makanan Khas Hari Raya

Lantunan gema takbir bertalu dimana-mana, menandakan lebaran Idul Fitri akan segera tiba. Hari ini semua umat muslim di seluruh dunia larut dalam kemeriahan menyambut hari kemenangan. Tidak terkecuali umat muslim di Indonesia. Meskipun sudah ada umat muslim yang merayakan hari lebaran lebih dahulu, namun keputusan pemerintah bahwa lebaran Idul Fitri tahun 1440 Hijriah jatuh pada hari Rabu, 05 Juni 2019, membuat mayoritas umat muslim akan melaksanakannya (hari raya) pada hari ini.

Lebaran di Indonesia tidak hanya disambut sukacita dalam bentuk luapan rasa syukur kepada Ilahi, akan tetapi juga akan disambut dengan berbagai kemeriahan lain, seperti ziarah (bersilaturahim ke rumah para tetangga dan juga ke rumah sanak famili). 

Menyambut para peziarah tentu tidak semata hanya dengan senyum atau salaman-salaman belaka, akan tetapi si tuan rumah tentu saja harus menyiapkan berbaga kudapan khas hari raya. Salah satu makanan yang menjadi ciri khas dalam perayaan-perayan hari lebarab adalah ketupat. 
Gambar ketupat lebaran (sumber)

Ya, setiap musim lebaran khususnya di Indonesia, ketupat akan selalu menghiasi dapur-dapur para ibu-ibu rumah tangga. Sehari sebelum hari raya, kepulan asap beraroma ketupat akan datang menggoda tiap penduduk. Ketupat sendiri bisa diubah menjadi berbagai macam menu, misalnya kupat sayur, lontong, dan juga tentu saja sebagai pelengkap hidangan Coto Makassar. Lantas, dari mana asal-usul sehingga ketupat menjadi makanan khas hari raya di Indonesia?

Tidak ada sumber yang jelas mengenai asal-usul ketupat yang dijadikan menu khas hari raya di Indonesia. Namun, menurut sejarawan kuliner sekaligus penulis buku "Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia", Fadly Rahman dilansir dari kompas.com, bahwa Menurut cerita rakyat, ketupat itu berasal dari masa hidup Sunan Kalijaga, tepatnya di masa syiar Islamnya pada abad ke-15 hingga 16. Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai ke-Islaman. 

Namun begitu, Fadly tak memungkiri jika ketupat bisa jadi berasal dari zaman yang lebih lama, yakni zaman Hindu-Buddha di Nusantara. Merujuk pada zaman pra Islam, nyiur dan beras sebagai sumber daya alam sudah dimanfaatkan untuk makanan oleh masyarakat di zaman tersebut. Juga di Bali hingga saat ini menggunakan ketupat (orang Bali menyebutnya tipat) dalam ritual ibadah. "Secara tertulis dalam prasasti yang diteliti oleh para ahli, tak disebut secara spesifikasi merujuk ke ketupat, tetapi indikasi makanan beras yang dibungkus nyiur sudah dilakukan sebelum masa pra Islam," kata Fadly. Ketupat ahirnya tak hanya menjadi identitas di Indonesia melainkan juga di Asia Tenggara khususnya negara Melayu, identik dengan Hari Raya Idul Fitri. "Di Islam, ketupat dicocokkan lagi dengan nilai-nilai ke-Islaman oleh Sunan Kalijaga, membaurkan pengaruh Hindu pada nilai nilai ke-Islaman, menjadi akulturasi yang padu antara keduanya," tambah Fadly. (zp_mnq37)







0 Komentar