Metode Mencatat, Kenapa Tidak?

Hari ini saya akan memberikan sedikit pengalaman mengajar mata pelajaran Sejarah Peminatan di kelas 10. Mengingat di sekolah tempat saya mengajar masih belum memiliki sarana dan prasarana yang memadai, seperti Buku Paket untuk Sejarah Peminatan yang belum tersedia di Perpustakaan. Ditambah dengan latar belakang saya yang merupakan Sarjana Pendidikan Fisika (Kok bisa ngajar Sejarah?). Ok, jadi begini, sekolah saya terbilang sekolah baru, masih berusia sekitar kurang lebih 8 tahun. Sebagian besar guru-guru yang ada disini adalah tenaga honorer ditambah beberapa orang guru tenaga sukarela (termasuk saya). Pegawai Negeri Sipil hanya berjumlah 7 orang, itupun tidak semuanya mengajar. Jadi 1 orang Kepala Sekolah, 1 orang Tata Usaha, dan 1 orang Wakasek Bidang Kesiswaan. Sisanya, hanya 4 orang yang mengajar. Dan anehnya., setiap penerimaan CPNS, sekolah ini tidak mendapat bagian dari formasi.

Baik, kita lanjut metode yang saya gunakan dalam mengajar sejarah. 

Metode yang saya gunakan disini adalah metode mencatat. Meskipun metode yang saya gunakan adalah metode yang konvensional, namun tidak terlihat adanya peserta didik yang bosan. Sebalinya justru peserta didik begitu antusias dengan metode yang saya berikan. Oleh karena itu metode mencatat, adalah metode yang menurut saya cukup bagus untuk diterapkan di sekolah-sekolah dengan sarana dan prasarana yang masih belum memadai. 

Langkah-langkah dalam metode ini terbilang cukup mudah. Setelah peserta didik diberi apersepsi tentang materi yang telah didapatkan pada pertemuan sebelumnya, selanjutnya peserta didik diberikan penjelasan oleh guru mengenai materi yang akan dipelajari untuk hari ini. Selanjutnya guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai 'khusus' untuk pelajaran yang berlangsung hari ini. Hal ini juga sangat penting, sebab dengan tujuan pembelajaran, maka proses belajar mengajar akan lebih terarah. Hal ini juga membuka sedikit wawasan bagi para guru bahwa tujuan pembelajaran seyogyanya diberikan pada setiap pertemuan, bukan diberikan sekaligus hanya pada pertemuan pertama.

Namun, seperti metode yang lainnya, tentu saja metode yang saya gunakan ini memiliki banyak sekali kekurangan. Diantaranya metode ini hanya cocok digunakan untuk mata pelajaran ilmu sosial yang memiliki materi pelajaran yang membutuhkan penalaran verbal (tidak hanya membutuhkan pemahaman, tetapi hapalan). Seperti Sejarah, Sosiologi, PKn, dan sedikit dari materi mata pelajaran Ekonomi dan Geografi. Kenapa saya mengatakan sedikit, sebab beberapa materi dari mata pelajaran geografi dan Ekonomi, membutuhkan penalaran logis-matematis.

Oleh karena itu, pengembangan metode ini dikembalikan lagi kepada guru yang bersangkutan, mau diapakan terserah. Sebab tujuan utamanya adalah bagaimana peserta didik bisa menikmati pelajara, memperoleh nilai yang memuaskan, dan tentunya proses pembelajaran mampu memenuhi target kurikulum.

Sebagai catatan, metode ini merupakan metode yang ketinggalan zaman. Akan tetapi, dengan segala keterbatasan, metode ini saya rasa cukup efektif dalam pencapaian standarisasi pendidikan.

0 Komentar