Gunung Bawakaraeng, Sebuah Pengalaman Merajut Kenangan


Menceritakan sebuah pengalaman pribadi dari seseorang yang untuk pertama kalinya mendaki salah satu puncak tertinggi di Sulawesi Selatan. 

Gunung Bawakaraeng (Sumber Gambar)

 |Ditulis oleh Harianto Masdar|
-Aktif sebagai guru, kadang-kadang menulis artikel atau puisi.
Menulis karena hobi. Bukan penulis profesional, 
hanya berusaha membuat
setiap kesempatan menjadi lebih bermakna-
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Ini bukan kisah mistis,
hanya mencoba menulis hal-hal manis
berisi kenangan dan pengalaman di setiap baris"
(Harianto Masdar)


Hari ini cukup setahun setelah pengalaman pertama saya mendaki dan rasanya itu menyenangkan, apalagi bersama dengan teman-teman panitia Turnamen Sepakbola Botolempangan Cup.

Pendakian ini merupakan inisiasi dari para panitia turnamen sepak bola antar Dusun yang diselenggarakan di desa kami. Sedari awal bahkan sebelum kepanitian terbentuk, kami sudah sepakat akan melakukan pendakian ke Gunung Bawakaraeng sebagai bagian dari rangkaian kegiatan (kalau di kampung saya sih, istilahnya pembubaran panitia)

Dua pekan setelah selesainya kegiatan (turnamen sepak bola), kami sempat ragu cenderung menduga pendakian ini tidak akan terlaksana karena seperti biasa, biasanya rencana yang diawali semangat luar biasa akan berakhir mandet dan ujungn-ujungnya batal (itu sih menurut pengalaman pribadi saya. heheh). Setelah bercerita dengan teman-teman ditempat biasa didepan toko jualan salah satu panitia sambil menikmati sajian kopi Torabika, ditambah dengan sensasi sejuknya suasana perkampungan, akhirnya rencana pendakian itupun fix akan kami laksanakan. 


"Mungkin menurut sebagian orang, 
pendakian Gunung Bawakaraeng itu biasa-biasa saja
atau hanya sekedar latihan bagi mereka 
yang akan mendaki puncak-puncak lain di Sulawesi 
tetapi buat kami ataupun saya pribadi, 
yang akan berkesan nanti 
bukan tentang seberapa cepat kita sampai dipuncak 
atau foto-foto terbaik. Tetapi pendakian ini 
Lebih kepada membentuk pribadi kita saling mengenal lebih baik lagi"

Persiapan pendakian sendiri itu tidak terlalu sulit, Alhamdulillah banyak teman-teman yang mau meminjamkan alat apalagi karena teman saya ini salah satu pengurus Organisasi Siswa Pencinta Alam (SISPALA) disekolahnya, jadi masalah alat dan pengalaman mendaki tidak terlalu kami khawatirkan.

Sebelum berangkat, kami berkumpul terlebih dahulu dirumah salah seorang teman untuk mengecek kembali perlengkapan yang akan kami gunakan. Setelah semuanya siap, barulah kami memulai perjalan dengan menggunakan sepeda motor (karena lokasi pendakian letaknya kurang lebih 15 menit perjalanan dari tempat tinggal kami). Setelah sampai diujung jalan (maksudnya batas jalanan ber-aspal), kembali kami lakukan pemeriksaan perlengkapan dan juga sejenak menenangkan diri agar pendakian ini bisa dilakukan dengan santai dan mendengar beberapa tips atau arahan dari teman kami yang berpengalaman tentang jalur pendakian ini.
Gambar jalur Pendakian awal Menuju Puncak
Akhirnya kami mulai melangkah. Jalur yang kami lalui dari Tassoso Desa Gunung Perak. Jalur ini terkenal dengan jalur yang menanjak dari pos 3 sampai puncak, yang mana untuk menuju puncak sampai pos 10, sekitar 5 menit perjalanan melewati kebun-kebun sayuran warga sekitar. Kami tiba di pos 1. Memasuki pos 1 kami harus melewati dinding batu yang ditata rapi oleh masyarakat untuk menandakan perbatasan kawasan hutan gunung bawakaraeng dengan kawasan perkebunan dan pemukiman warga. Jalur dari pos 1 sendiri cukup landai hingga pos 3. Di jalur ini kami hanya harus cukup hati-hati karena banyaknya jalur warga yang mungkin sering keluar masuk hutan untuk mencari hewan buruan dan itu akan berbahaya. Bisa-bisa jika kami tidak melihat jalur dengan benar maka kami akan tersesat. Meskipun banyak diantara kami yang pernah mendaki Gunung Bawakaraeng, tetapi tetap saja, "alam liar punya segudang misteri". Jadi kehati-hatian dan terus waspada adalah hal dasar yang hasur dilakukan. 

Setelah beberapa saat tibalah kami dibantaran sungai yang telah dibendung oleh masyarakat sekitar untuk pengairan mereka. Kami sejenak berhenti sekedar mencuci muka. Lalu kami lanjutkan perjalanan yang menurut teman saya yang berpengalaman katanya setelah sungai ini kita akan benar-benar mendaki. Jadi kami harus persiapkan diri

Benar saja setelah melewati bantaran sungai tadi, jalur yang kami lalui sedikit demi sedikit mulai menanjak. Saat itulah beban carrier yang saya bawa mulai terasa meskipun isinya hanya karpet dan pakian, serta sedikit bekal makanan tetapi ternyata itu juga butuh sedikit tenaga. Jadi setelah sampai di pos 3 kami memutuskan untuk beristarahat sejenak dibawah pepohonan yang rindang dengan terik matahari yang terhalang rimbunan dedaunan pohon yang menjulang. Seperti biasa kami yang merupakan kawan dekat mengisi waktu istrahat dengan bercerita berbagai macam hal dan sesekali menimbulkan tawa yang riang diantara kami sehingga rasa lelah pun perlahan-lahan teratasi.
Gambar suasana pendakian menuju Pos 3

Setelah berhenti sejenak, kami mulai beranjak kembali untuk melanjutkan perjalanan. Perjalanan ini kami lakukan sesantai mungkin, menyadari bahwa kami orang baru dalam pendakian dan juga tujuan kami memang untuk menikmati pemandangan sekitar, jadi kami berangkat sekitar pukul 09.00 pagi dari Tassoso dengan harapan langit cerah, sehingga pemandangan alam pun dapat kami nikmati dengan sempurna.
Gambar suasana Pos 3
Dalam perjalanan kali ini tidak ada rintangan yang berarti selain rasa lelah yang memang wajar karena beban carrier yang kami bawa dan juga memang kami banyak istrahat, hal ini dilakukan karena kadang kami terpisah cukup jauh antara satu dengan yang lainnya, jadi kami harus menunggu teman-teman yang tertinggal dibelakang. Melewati pos 3, 4, 5 dan 6, memang cukup menguras tenaga karena jalurnya yang benar-benar mendaki dan juga banyaknya pohon tumbang ditengah jalan. Jadi sesekali kami harus lewat sembari membungkuk atau bahkan sampai harus 'ngesot(bisa dibayangkan, membungkuk dengan menggendong carrier itu rasanya bagaimana), tentu saja cukup melatih kesabaran untuk melawati rintangan tersebut dan itu cukup membosankan menurut saya pribadi. 

Selain itu ada beberapa hal yang memang menjadi pesan dari orang-orang tua tentang mitos mendaki Gunung Bawakaraeng, jadi kami berusaha untuk tidak melanggar itu. 

"Bukan berarti meyakini ataupun percaya 
bahwa mitos-mitos itu dapat 
memberikan pengaruh bagi kita sendiri 
tetapi kami berusaha untuk tetap tidak melanggar 
sebagai bentuk menghormati nasehat orang-orang tua kami" 

Adapun beberapa mitos tentang mendaki gunung bawakaraeng adalah: 1) jangan memakai baju merah; 2) jangan bilang capek atau lelah; 3) jangan memegang lutut apabila kelelahan. Itulah beberapa mitos yang saya tahu dari cerita orang-orang jadi sekali lagi, "bukan berarti percaya atau yakin tapi untuk menghormati pesan mereka maka kami berusaha untuk tidak melanggar itu dan juga untuk menghindari perdebatan yang tidak perlu, karena tentu saja yang mampu memberikan kita mudharat hanya ï·² ï·». "

Lanjut, kami beristirahat di pos 5 atau 6 saya (kurang tahu karena tidak ada papan penanda) yang letaknya tepat di tepi jurang yang sempat saya lihat yang ternyata cukup dalam. Kami beristrahat disana cukup lama sambil berbagi air mineral dan seperti biasa bercerita berbagai macam hal dari yang berfaedah maupun unfaedah yang penting kita tertawa.  Setelah itu kami lanjutkan perjalanan, kali ini menuju pos 8 yang dikenal dengan Lembang Cina (sejarahnya mengapa disebut Lembang Cina, saya sendiri masih belum terlalu banyak referensi tentang hal itu). Ada sedikit kejadian unik menurut saya pribadi saat melewati pos 6 sampai 8. Dalam perjalanan itu entah menuju pos 7 atau 8 tiba-tiba udara dingin menusuk tulang, saya rasakan dan itu membuat saya pribadi kaget  karena dalam keadaan bergerak terus tapi tiba-tiba membuat saya kedinginan dan setelah itu saya tanya sama teman didepan saya, tetapi dia biasa-biasa saja seolah tidak ada apa-apa. Tentu saja saya masih heran dengan kondisi itu, akan tetapi itu mungkin pengaruh karena ketinggian dimana gas oksigen tentu melimpah karena vegetasi yang juga masih alami di dalamnya (bukan bermaksud menghubungkan dengan hal-hal mistis tapi setiap kejadian pasti ada jawaban dan mungkin ada penjelasan ilmiah tentang itu).
Gambar Suasana di Lembang Cina

Sesampainya kami di pos 8, jam sudah menunjukkan waktu shalat Dhuhur dan juga "kampung tengah" sudah mulai keroncongan akhirnya kami istrahat disana. Disini kami membagi tugas ada yang menyiapkan api untuk memasak bekal dan ada yang mengambil air. Lembang Cina atau pos 8 ini merupakan tempat untuk mengambil air dan memang sumber air disini selain melimpah juga bersih serta tidak lupa dinginnya yang luar biasa. Setelah itu kami mendirikan Shalat Dhuhur lalu dilanjutkan makan bersama dan tidak akan lengkap rasanya jika tanpa segelas kopi hangat tentunya. Kami sempat berfoto disebuah kayu tumbang, dimana menurut teman saya yang pernah mendaki sebelumnya, pohon itu sudah lama tumbang mungkin pada saat gunung Bawakaraeng terbakar.

Gambar Pohon Tumbang di Jalur Pendakian
Perjalanan kami lanjutkan kembali menuju pos 9. Seperti biasa, perjalanan masih mendaki tapi suasana menuju pos 9 sudah berbeda dibanding sebelumnya dimana pepohonan tidak terlalu tinggi, bahkan tangkai-tangkai pepohonan sekitar dapat kami jangkau dengan mudah serta lumut-lumut yang mendominasi lingkungan sekitar ditemani rerumputan yang hijau kecoklatan.
Gambar Jalur Pendakian yang dipenuhi lumut dan rumput liar
Di Pos 9 kami mengisi jirigen yang kami bawa untuk bekal persediaan air saat berada dipuncak. Tetapi sayang sumber air disini sedikit kotor. Kami kemudian menyusuri aliran air kecil itu sampai keatas-atasnya dan akhirnya kami menemukan tempat yang tepat untuk mengisi air, yaitu tempat yang aliran airnya dapat kami beri saluran kecil sehingga kotoran dari tanah tidak masuk dalam jirigen kami. Dengan sabar kami antri sembari berfoto karena pemandangan di pos 9 juga tidak kalah indahnya. Setelah persediaan air kami cukup akhirnya kamipun memulai perjalanan kembali dengan medan mendaki yang didominasi bebatuan yang telah lapuk dan juga debu-debu yang beterbangan membuat kami sedikit kesulitan. Namun semua itu dapat kami atasi dengan kerjasama tim yang baik.

Sekitar pukul 15.00, kami akhirnya sampai di puncak Gunung Bawakaraeng. rasa lega bercampur lelah karena akhirnya saya pribadi dapat membuktikan bahwa saya juga mampu untuk mendaki Gunung Bawakaraeng. Setelah memilih tempat untuk memasang tenda dan menyediakan perapian akhirnya kami mencari spot-spot foto yang bagus dan objek foto yang selama ini saya tunggu-tunggu akhirnya mampu saya abadikan dalam lensa HP saya, yaitu memotret senja dari puncak Gunung Bawakaraeng. Langit yang berwarna biru serta matahari yang sebentar lagi akan digenggam malam dan juga gumpalan awan yang membentuk sketsa indah di sudut cakrawala menambah keindahan dan kekaguman saya kepada Allah sebagai Pencipta langit dan bumi ini. Spot foto yang menjadi favorit saya adalah disebelah kiri tugu puncak Gunung Bawakaraeng jalur menuju pos 13. Sekian cerita singkat kami perjalanan menuju puncak gunung Bawakaraeng...


Gambar Suasana Mendirikan Tenda di Camp

Berikut akan ditampilkan gambar-gambar lain yang menurut kami sangat sayang jika tidak diabadikan







0 Komentar