Hukum Keutamaan Qurban

Gambar: Hewan Qurban

Allah _Subhanahu wa Ta’ala_ berfirman :

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah : sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku & matiku hanya untuk Allah, Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah aku diperintah dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)" [Al-An’am : 162-163].

Mufradat Ayat

Lafadz “Katakanlah : sesungguhnya shalatku“, Shalat secara bahasa adalah doa dengan kebaikan, demikianlah pendapat mayorotas para ahli bahasa, dinamakan dengan doa, karena cakupan terhadapnya, Allah Ta’ala berfirman: “Dan doakanlah mereka, sungguh doamu adalah ketenangan untuk mereka“ [At-Taubah : 103].

Adapun secara istilah, shalat adalah peribadahan kepada Allah Ta’ala dengan perkataan & perbuatan yang khusus, dibuka dengan takbir & ditutup dengan salam. Sebagian ulama berpendapat, yang dimaksud dengan shalat di sini adalah shalat malam. Sebagian berpendapat, shalat iid.

Lafadz “Nusuk“, dari kata Nasiikah, yang bermakna sembelihan. Sebagian ulama berpendapat, makna Nusuk di sini adalah agama, sebagian lagi berpendapat, ia adalah sembelihan pada ibadah haji & ‘umrah. sebagian lagi berpendapat, ia adalah ibadah. sebagian lagi berpendapat ia adalah ibadah haji, Sebagian lagi berpendapat ia adalah seluruh amalan kebaikan & ketaatan.

Lafadz “hidup & matiku“, maksudnya apa yang aku amalkan dalam kehidupanku & apa Dia wasiatkan dengannya setelah kematianku, yang aku mati di atasnya dari keimanan & amalan yang shalih. Sebagian berpendapat apa yang Dia memberikannya di dalam kehidupanku, dan apa yang akan Dia membalasnya untukku, apa yang Dia taqdirkan untukku pada kematianku.

Lafadz “Hanya untuk Allah“, seluruh hal yang disebut di atas hanya untuk Allah, nama Allah maknanya adalah Yang berhak Disembah atau Diibadahi oleh seluruh Makhluk, tidak ada serikat bagi-Nya, terkandung di dalamnya sifat-sifat Uluhiyyah, dan ia adalah sifat-sifat kesempurnaan.

Lafadz “Rabb semesta alam“, Rabb secara bahasa adalah tuan yang ditaati atau raja, sebagaimana perkataan Nabi Yusuf di dalam Al-Qur’an, “Maka ia akan meminumkan khamar kepada tuannya“ [Yusuf : 41], dan juga perkataan Beliau: “Ingatkan aku di sisi tuanmu“ [Yusuf : 42], dan juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tatkala mengkhabarkan di antara ciri hari Qiyamat: “Dan kamu melihat budak perempuan yang melahirkan tuannya“ [HR
 Muslim], dari Abu Hurairah. 

Adapun secara istilah, Rabb adalah Dialah Allah yang Maha Mentarbiyah, Maha Mencipta, Maha Mengusai, Maha Memiliki, Maha Mengatur, Maha Menegakkan, Maha Memberi nikmat, hanya milik-Nya Rububiyyah & Dialah Yang Maha disembah atau diibadahi. Asal lafadz Rabb tidak boleh dimutlakkan kepada selain Allah, kecuali jika disandarkan, sebagaimana telah berlalu. Jika ia disandarkan, maka kadang untuk Allah, dan kadang boleh untuk selain Allah, tergantung makna & konteks kalimat. Adapun lafadz “‘aalamiin“, jamak dari ‘aalam. Dan ‘aalam adalah  sesuatu selain Allah.

Lafadz “Tidak ada sekutu bagi-Nya“, dalam ibadah, sebagaimana tidak ada sekutu di dalam penguasaan & pengaturan alam semesta. Lafadz “Dan demikian itulah aku diperintah“, bukan hal yang diada-adakan dariku.

Lafadz “aku adalah orang yang pertama berislam“, dari umat ini. Makna islam di sini adalah islam yang bermakna khusus, yaitu islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus. Adapun secara umum, para Nabi & Rasul juga seluruhnya berislam, di antaranya:

1. Tentang Nabi Nuh ‘alaihi as salam: “ … Dan aku diperintah agar aku menjadi orang-orang yang berislam“ [Yunus : 72].

2. Tentang Nabi Ibrahim ‘alaihi as salam, Allah Ta’ala berfirman: “Ketika Rabbnya berfirman kepadanya: Berislamlah, ia (Ibrahim) menjawab: Aku berislam kepada Rabb semesta alam" 
[Al-Baqarah : 130-131].

3. Tentang Nabi Ya’qub ‘alaihi as salam, Beliau berkata kepada anak-anaknya: “Maka janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan muslim" [Al-Baqarah : 132].

4. Tentang Nabi Yusuf ‘alaihi as salam: “… Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan ikutkanlah aku (bersama) dengan orang-orang yang shalih“ [Yusuf : 101].

5. Tentang Nabi Musa ‘alaihi as salam, Allah Ta’ala berfirman : “Berkata Musa: Wahai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah, maka hanya kepada-Nya, hendaknya kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar berislam" [Yunus : 84].

6. Tentang para Nabi yang berpedoman kepada Taurat: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat di dalamnya (ada) petunjuk & cahaya, dengannya para Nabi yang berislam, menghukumi orang-orang Yahudi ….“ [Al-Maidah : 44].

7. Tentang Nabi ‘Isa ‘alaihi as salam, Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Aku wahyukan kepada al hawariyyun, Berimanlah kalian kepada-Ku & kepada rasul-Ku. Mereka menjawab: Kami telah beriman & persaksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang berislam“ [Al-Maidah : 111].

Makna Global Ayat

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintah Nabi-Nya untuk mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya, seraya berkata kepada orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah, menyembelih dengan menyebut selain nama Allah, bahwa Beliau menyelisihi agama mereka. Tatkala disebut shalat & sembelihan, tanpa ibadah yang lain, menunjukkan akan kemuliaan dua ibadah ini & keutamaannya yang menunjukkan akan kecintaan kepada Allah & keikhlasan di dalam beribadah, mendekatkan diri kepadanya dengan hati, lisan, anggota tubuh & harta. Oleh karena itu, siapa yang mampu ikhlas di dalam shalat & menyembelih, itu akan membantunya untuk ikhlas di dalam seluruh amalan. Sampai pada hidup & matinya, ia mampu serahkan hanya untuk Allah, tidak ada serikat bagi-Nya dalam Uluhiyyah, Rububiyyah & nama & sifat-Nya, demikianlah kemurnian tauhid yang Allah perintah Nabi-Nya dengannya, Beliau adalah orang yang pertama berislam kepada Allah.

Hukum Qurban (Udhiyyah),

Al-Udhiyyah adalah hewan tertentu yang disembelih pada hari-hari tertentu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dengan syarat-syarat tertentu. Disebut udhiyyah, karena awal waktu penyembelihannya dimulai dari waktu dhuha. Ada beberapa hadits menunjukkan akan wajibnya, karena Nabi memerintah untuk menyembelih & mengancam dengannya, namun mayoritas ulama berpendapat bahwa hukumnya sunnah muakkadah, ada beberapa hadits yang menunjukkan akan sunnahnya, ini juga yang pahami oleh para sahabat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika telah masuk 10 (awal Dzulhijjah), dan salah seorang (dari) kalian ingin menyembelih, maka jangan ia meyentuh dari rambutnya & kulitnya sedikitpun“ [HR. Muslim] dari Ummu Salamah.

Keutamaan Ibadah Qurban

1. Menegakkan peribadahan kepada Allah, karena terkumpul di dalamnya berbagai jenis ibadah, terkhusus ibadah harta.
2. Memberikan kelapangan kepada orang-orang yang susah lagi faqir, Allah Ta’ala berfirman: “… Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lainnya) berilah makan orang-orang yang susah lagi fakir“ [Al-Hajj: 28].

3. Pengagungan terhadap simbol Allah, “Demikianlah, dan siapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya ia dari ketakwaan hati“ [Al-Hajj : 32].
4. Sebab yang mengantar kepada pemurnian ibadah hanya kepada Allah, “... agar mereka menyebut nama Allah terhadap apa yang Dia rezkikan kepada mereka dari hewan ternak, maka sesembahan kalian adalah sesembahan yang satu“ [Al-Hajj : 34].

5. Salah satu sumber kebaikan yang sangat besar di dunia & akhirat.
6. Memasukkan kegembiraan kepada keluarga & tetangga.
7. Memperkuat tali persaudaraan & kecintaan antara sesama muslim.

8. Sebagai lambang kesyukuran hamba terhadap nikmat Allah, empat point di atas diterangkan di dalam firman Allah: “Dan unta-unta telah Kami jadikan untuk kalian dari syi'ar-syi’ar Allah, untuk kalian di dalamnya ada kebaikan, sebutlah nama Allah atasnya dalam keadaan berdiri, jika ia telah jatuh, makanlah sebagian darinya dan berilah makan orang yang berkecukupan & orang yang meminta. Demikianlah Kami telah tundukkan ia untuk kalian, agar kalian bersyukur“ [Al-Hajj : 36].

9. Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim, Allah _Ta'ala_ berfirman: “Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan Kami menebusnya dengan sembelihan yang besar“ [Ash-Shoffaat : 106-107]

10. Sebab terbesar yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah,
11. Ibadah yang Allah syariatkan pada setiap umat, Allah Ta'ala berfirman: "Pada setiap umat Kami telah menjadikan Qurban" [Al-Hajj : 34]

Faidah Ayat

1. Perhatian Allah kepada Nabi-Nya.
2. Kewajiban memurnikan ibadah hanya kepada Allah, khususnya shalat & sembelihan.
3. Keutamaan ibadah Qurban.
4. Penetapan maksud penciptaan manusia di muka bumi.
5. Penetapan adanya kehidupan & kematian.
6. Penetapan nama Allah & nama Rabb.
7. Keumumuman Rububiyyah Allah.
8. Penetapan tiga jenis tauhid, Rububiyyah, Uluhiyyah & Asmaa’ wa Sifaat.
9. Keutamaan Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam_.
10. Pembagian Islam & Keutamaannya.

---------

Sumber Artikel: 
Buletin As-Sunnah, diterbitkan oleh YPI An-Nashihah, alamat redaksi : TPQ As-Sunnah, Jalan Cemara, Baubau. Penyusun : Bashri Al-Buthony حفظه الله
Sumber Gambar:

0 Komentar