Sobat Panrita, sebagai masyarakat yang mencintai tanah kelahiran, pernah tidak kalian bertanya-tanya:
"Bagaimana sih rupa peradaban kampung halaman kita di masa lalu? Bagaimana dinamika kehidupan leluhur kita jauh sebelum teknologi secanggih sekarang"?
Judul artikel kita hari ini sengaja saya buat agak panjang, karena memang sedahsyat itu perjuangannya: Diteliti Selama 30 Tahun Hingga ke Belanda, Inilah Kisah di Balik Buku 'Hanua Sinjai' Karya Drs. Muhannis!
Buku Hanua Sinjai Karya Drs. Muhannis
Yuk, langsung saja kita bedah kisahnya. Check this out!
Siapa di Balik Mahakarya Ini?
Sebelum kita menguliti isi bukunya, kita wajib berkenalan dulu dengan sang maestro. Buku Hanua Sinjai ditulis oleh Drs. Muhannis. Bagi masyarakat Sinjai, beliau bukan nama yang asing. Beliau adalah seorang sejarawan, budayawan, sekaligus mantan pendidik senior yang telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk merawat ingatan kolektif kebudayaan kita.Melalui tangan dingin beliaulah, berserakan teka-teki masa lalu Sinjai dikumpulkan kembali, dirapikan, hingga menjelma menjadi sebuah buku babon (rujukan utama) setebal kurang lebih 670 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Ininnawa pada tahun 2022 lalu.
Komitmen Gila-gilaan: Meneliti Selama Tiga Dasawarsa!
Sobat Panrita bisa bayangkan tidak, meneliti satu topik yang sama selama lebih dari 30 tahun? Di zaman sekarang, mencari informasi tinggal sekali klik di gawai. Tapi bagi Drs. Muhannis, sejarah tidak bisa ditulis hanya bermodalkan katanya atau sekadar asumsi permukaan.Selama tiga dasawarsa, beliau dengan sabar menelusuri naskah-naskah tua Lontara, mendatangi para tetua adat, hingga melakukan perjalanan jauh ke Belanda untuk memeriksa dokumen-dokumen kolonial di perpustakaan ternama, Leiden University. Bayangkan betapa besarnya energi, biaya, dan pikiran yang beliau korbankan demi memastikan bahwa sejarah yang tertulis di buku ini benar-benar valid dan bisa dipertanggungjawabkan secara akademis.
Apa Saja yang Ada di Dalam Buku Hanua Sinjai?
"Hanua" sendiri memiliki arti kampung halaman, negeri, atau wilayah. Melalui buku tebal ini, Drs. Muhannis membedah Sinjai bukan sekadar sebagai titik geografis, melainkan sebagai sebuah pusat peradaban yang kaya. Beberapa poin penting yang akan kalian temukan di dalamnya antara lain:1. Rekaman Sejarah Kerajaan Tua: Mengupas tuntas asal-usul, perkembangan, hingga dinamika sosial-politik kerajaan-kerajaan kuno di Sinjai, seperti bagaimana kuatnya ikatan konfederasi Tellu Limpoe dan Pitu Limpoe.
2. Dokumentasi Adat Karampuang: Memotret dengan sangat rapi seluk-beluk kebudayaan, tatanan hidup, tata ruang, hingga struktur kepemimpinan masyarakat adat Karampuang yang begitu legendaris.
3. Pencarian Jati Diri: Buku ini ditulis sebagai ruang kontemplasi agar kita, khususnya generasi muda, tidak kehilangan arah dan tetap mengenali akar jati diri di tengah gempuran modernisasi digital.
Mengapa Sobat Panrita Wajib Tahu Buku Ini?
Membaca atau sekadar mengetahui keberadaan buku Hanua Sinjai akan membuka mata kita bahwa bumi Panrita Kitta ini memiliki fondasi peradaban yang sangat kuat dan dihormati sejak masa lampau. Dedikasi Drs. Muhannis menunjukkan kepada kita bahwa sejarah lokal sama sekali tidak kalah berkelas dengan sejarah dunia. Buku ini adalah warisan tak ternilai yang menjaga ingatan kita agar tidak amnesia terhadap budaya sendiri.Sebenarnya, mengulas buku setebal 670 halaman ini tidak akan cukup dalam satu artikel saja. Ke depannya, di zonapanrita.com, saya berencana untuk membedah bab-bab menarik di dalam buku ini secara lebih spesifik untuk kalian semua.
Nah, bagaimana menurut Sobat Panrita? Apakah kalian tertarik untuk ikut berselancar menembus lorong waktu sejarah Sinjai lewat buku ini? Atau mungkin ada di antara kalian yang sudah pernah membaca langsung mahakarya Drs. Muhannis ini?
Yuk, tulis pendapat atau pertanyaan kalian di kolom komentar ya! Sampai jumpa di artikel bedah sejarah berikutnya!

0 Komentar